MENGELOLA CITRA PERSONALITAS BANGSA

Di tahun-tahun belia lagi awal pada dekade pertama abad ke-21 dan millenium ketiga – tanpa banyak dinyana – bangsa ini mesti menghadapi deraan berat terhadap citranya sebagai bangsa yang damai. Citra sebagai sebuah negeri yang damai – untuk sekedar membedakan dengan negeri-negeri di kawasan lain semisal Asia Selatan dan Timur Tengah yang sarat gejolak – setidaknya masihlah pantas disandang oleh bangsa ini pada sepuluh tahun terakhir. Kendatipun fakta yang sejati di depan mata kita sedang terpuruk oleh deraan krisis moneter dan ekonomi yang seakan tak terobati.

Seperti hendak melengkapi penderitaan multi-dimensional yang sedang ditanggungnya, bangsa ini tepat di tapak pertama dalam menyongsong fajar abad dan millenium baru mesti meradang kembali : citranya sebagai bangsa terkoyak. Pasca peristiwa Selasa Kelabu Sebelas September dengan hancurnya gedung kembar World Trade Centre (WTC) New York citra buruk ini bereskalasi dan semakin memburuk.

Terorisme yang dalam waktu singkat menjadi isu global menyeret bangsa ini ke dalam pusaran permasalahan. Padahal pasal dari masuknya nama bangsa ini ke dalam pusaran permasalahan hanya karena persoalan sepele : karena adanya kelemahan di dalam pengelolaan public relations. Alasan ini dibuat tanpa menafikkan pasal juga karena memang adanya kesamaan sentimen emosional-religius sekelompok minoritas kecil yang menjadi unsur bangsa ini dengan para pelaku aksi terorisme.

Terlepas dari penghakiman dan kekuasaan hegemonik yang telah dikukuhkan oleh polisi dunia seperti pemerintahan AS yang memang memiliki daya pengaruh tinggi dalam konstelasi politik dunia yang sangat mungkin bersifat subyektif, tendensius dan menyimpan prasangka rasistik dan religius, opini dunia internasional telah menorehkan citra yang amat sangat buruk terhadap bangsa ini. Realitas kekalahan dalam daya pengaruh informasi telah memerosokkan bangsa Indonesia menjadi bulan-bulanan publisitas asing dan berada dalam kubangan krisis citra.

Potret selaku bangsa teroris sudah menjadi bagian dari struktur kesadaran dan opini mayoritas komunitas global penghuni bumi ini terhadap citra bangsa kita. Dalam kacamata mereka, bangsa kita telah terkonstruksikan sebagai bangsa teroris. Kisah Nengah Mulyana, seorang seniman dalam tour misi kesenian dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Solo yang menuai cap sebagai teroris saat berkunjung ke Athena, Yunani adalah refleksi paling nyata, telanjang, dan paling pahit bahwa bangsa ini tengah berada dalam krisis citra.

Apa yang harus dilakukan dengan citra bangsa yang tengah memburuk di mata internasional ini ? Secara normal adanya problematika selalu mesti dibarengi dengan adanya aksi yang solutif. Untuk itulah krisis citra nasional ini membutuhkan upaya pengelolaan citra yang terencana secara matang dan dengan pelaksanaan yang serius. Realita keburukan citra sangat terkait dengan upaya public relations, sebuah bidang disiplin ilmu yang memang memiliki kompetensi tinggi untuk menciptakan dan membangun citra. Citra buruk adalah refleksi dari upaya public relations yang buruk pula.

Islam dan Nama Bangsa

Beberapa waktu lalu, sewaktu akan melakukan kunjungan ke Asia dan Australia, George W. Bush, dalam sebuah wawancara dengan sejumlah media internasional mengungkapkan keinginannya kepada Indonesia untuk menjelaskan watak dirinya dalam komunitas internasional dengan benar. Bush menerangkan bahwa adalah sangat urgen bagi bangsa Indonesia untuk menjelaskan kepada dunia internasional bahwa mayoritas dari masyarakat Islam di Indonesia adalah pemilik watak moderat, menegakkan demokrasi dan mendambakan perdamaian. Masih menurut Bush, tidak bisa terus dilanjutkan bagi bangsa ini untuk terus membiarkan nasib dirinya ditentukan oleh sekelompok kecil orang yang memiliki rasa kebencian.

Ungkapan bernada desakan dari Bush ini adalah cermin dari adanya kelemahan-kelemahan keterampilan yang dimiliki oleh sistem administrasi bangsa ini. Kelemahan ini secara spesifik yakni kelemahan di dalam pengelolaan program public relations. Apa yang diaspirasikan oleh Bush adalah niat untuk memberikan kesempatan yang leluasa kepada Indonesia untuk mampu menjelaskan jati diri sejatinya sebagai bangsa.

Pernyataan Bush ini juga bisa dipahami sebagai upaya untuk menciptakan keseimbangan informasi yang selama ini memang masih sangat timpang antara dunia barat dan timur atau antara negara maju dan negara berkembang. Dalam kaitan ini Indonesia secara faktual memang belum melakukan upaya optimal dalam pengelolaan informasi, sehingga sangat mungkin justru distorsi yang diterima oleh publik mengenai apapun yang terkait dengan Indonesia. Tantangan yang diberikan oleh Bush adalah pekerjaan rumah nasional bagi penciptaan pengelolaan sistem informasi nasional yang terpadu dalam kerangka besar untuk membangun citra yang benar dan jujur atas nama bangsa ini di mata dunia internasional.

Secara tradisional dipahami bahwa, dalam blantika public relations kenyataan yang buruk akan diketahui oleh khalayak sebagai citra yang baik bila memang ada upaya publisitas yang baik terhadapnya. Sebaliknya kenyataan yang baik tidak akan diketahui oleh khalayak bila tidak diadakan upaya publisitas terhadapnya. Untuk itulah kenyataan yang baik mesti dikelola secara baik untuk memperoleh publisitas positif dengan orientasi jangka panjang terbangunnya opini yang positif pula.

Dengan pemahanam ini, kenyataan masyarakat muslim Indonesia yang moderat tidak akan diketahui tanpa ada publisitas yang cukup terhadapnya. Upaya-upaya public relations berskala internasional mestilah dilakukan dalam rangka penciptaan citra positif ini.

Watak Komunitas Muslim Indonesia

Menjelaskan perwajahan dunia Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya agama Islam yang khas di kawasan Asia Tenggara sembilan abad yang lalu. Di dalam bukunya, Asian Renaisance, Anwar Ibrahim menuliskan adanya proses yang unik tentang sejarah masuknya Islam di Indonesia. Islam yang masuk ke Asia Tenggara disebarkan melalui laut oleh para sufi dan para pedagang. Bukan melalui jalur darat oleh tentara-tentara yang menghunuskan pedang. Perpindahan agama (religious convertion) yang didorong oleh pilihan sadar, bukan oleh paksaan dengan kekerasan, pada mulanya berlangsung di kalangan kelas penguasa di kota dan masyarakat pedagang.

Proses islamisasi yang berlangsung secara damai dan bertahap ini telah membentuk psyche yang unik di kalangan muslim Asia Tenggara, yakni yang berwatak kosmopolitan, berwawasan terbuka, bersikap toleran, dan lapang dada terhadap keanekaragaman kultural. Cara pandang ini ini juga dibentuk oleh keberadaan umat-umat beragama lain yang juga menghargai toleransi kaum muslim. Inilah yang membedakannya dengan kaum non-Muslim di Barat. Berbeda dengan komunitas non-Muslim di Barat, persepsi komunitas Muslim Asia Tenggara mengenai Islam tidak terdistorsi oleh prisma Perang Salib.

Watak dan gambaran Islam dengan tipologi moderat seperti ini juga diungkap oleh Syed Naquib Al Attas. Attas mengatakan bahwa Islam telah mentransformasi “karakter utama dan world-view peradaban Melayu-Jawa” menjadi sesuatu yang pada intinya bersifat “modern”. Atau dengan kata lain, Islam telah mengubah perspektif yang semula didasarkan pada magi, mitos, dan takhayul (superstision) ke perspektif yang bercorak ilmiah dan rasional.

Sejarah pertumbuhan agama yang sangat damai seperti inilah yang membentuk corak dan watak kamunitas Islam di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara pada umumnya. Corak khas muslim di Asia Tenggara benar-benar khas. Mereka memiliki unikum dalam cara pandang dunianya dan dalam rasa prioritas (sense of priority ) yang dimilikinya, sebuah kesadaran mereka mengenai apa yang harus lebih didahulukan dan apa yang tidak. Di Indonesia kelompok dan organisasi yang mendukung, mengaspirasikan, dan mendesakkan penerapan hukum-hukum Islam atau pembentukan negara Islam benar-benar berdiri di pinggiran. Daripada memotong tangan-tangan pencuri, kaum Muslim Indonesia – yang bisa mengambil representasi pada gerakan keagamaan seperti Muhammadiyah, Jamaah Tarbiyah dan Nahdhatul Ulama - lebih memilih untuk mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya yang menjamin berlangsung terusnya pertumbuhan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan. Daripada menghabiskan hari-hari mereka dengan kerja merumuskan corak dan lembaga-lembaga yang cocok untuk menopang sebuah negara Islam, masyarakat muslim Indonesia lebih memilih untuk bekerja keras meningkatkan kesejahteraan sosial.

Komunitas muslim Indonesia yakin bahwa upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menguasai revolusi informasi, dan menuntut keadilan bagi kaum perempuan sama sekali tidak akan mengurangi kadar keislaman mereka. Sebaliknya, mereka tidak percaya kalau dikatakan bahwa menyebarkan ketakutan di kalangan umat beragama lain adalah sebuah praktik yang dapat meningkatkan komitmen seseorang pada agamanya.

Moderasi dan pragmatisme komunitas muslim Indonesia ini adalah aset yang masih laten dan potensial untuk dikembangkan. Untuk itu musti diciptakan sebuah upaya sinergis dan integratif antara pihak kepemimpinan politik dengan kepemimpinan gerakan sosial keagamaan yang memiliki pengaruh dominan dalam rangka menciptakan publisitas yang benar, jujur, dan strategis akan wataknya. Dengan upaya ini watak bangsa yang sejati diharapkan akan dipahami secara benar oleh publik konsumennya baik dalam ranah nasional dan terutama internasional.

Comments

Popular posts from this blog

IDENTIFIKASI & RESOLUSI KRISIS

MANAJEMEN ISSUE & PUBLIC RELATION

Belajar Bisnis Online Lewat Ebook Gratis