MENEMBUS DUNIA KERJA

Sahabat, adakah diantara sahabat saat ini yang masih belum memiliki “pekerjaan”, atau sebagian sahabat yang merasakan ketidakpuasan di tempat kerja. Baiklah, saat ini memang pekerjaan menjadi modal penting bagi setiap insan untuk mampu mandiri dalam mengelola kehidupan yang lebih baik. Dengan bekerja pula, maka kita mendapatkan, kekayaan batin, hubungan antar manusia, penghargaan, aktualisasi diri, ibadah, pengalaman, dan semua hal itu kita bisa lakukan, dan mendapatkan penghasilan, inilah indahnya bekerja. Namun ada juga diantara sahabat kita yang merasa bahwa bekerja itu tidak indah, “sudah sulit nyarinya, gajinya kecil pula”, kata mereka. Memaknai bekerja hanya sebatas mendapatkan penghasilan dan belum mampu mengambil sesuatu yang lebih berharga dari aktivitas proses didalamnya. Tapi sudahlah, kali ini saya akan mencoba mengulas tentang Kiat bagi seorang yang memiliki motivasi untuk meningkatkan diri dengan bekerja. Dan memperoleh kekayaan batin, intelektual dan materi bekerja.
Pertama, sebagai seorang job seeker, sahabat seharusnya memahami, beberapa faktor kaitannya dengan ketersediaan pasar kerja bagi calon tenaga kerja. Dalam hal ini kita bisa membaginya dalam dua faktor yaitu faktor internal & faktor ekternal.
1. Faktor Internal: pada kondisi ini maka dibutuhkan kesiapan job seeker baik secara mental, intelektual, maupun administratif.
- Kesiapan mental adalah bahwa job seeker seharusnya memiliki motivasi kuat dan komitmen yang tinggi untuk bekerja. Dalam motivasi dan komitmen ini akan muncul kerelaan dan kesungguhan dalam melihat setiap peluangn dan kesempata, dan memanfaatkannya, apapun yang terjadi diterima ataupun ditolak. Sikap positif mutlak khususnya dalam menghadapi kegagalan dalam melamar pekerjaan, dan merupakan dinamisasi yang normal dalam setiap aktivitas mencari pekerjaan. Jika kita mencoba mengembalikan pada sebuah konsepsi ketuhanan, bahwa sebenarnya setiap manusia telah membawa rizkynya masing-masing. Persoalannya apakah akan diwujudkan dalam bentuk apa kita tidak mengerti. Dan bila diwujudkan dal bentuk konkrit seperti pekerjaan misalnya, kita PASTI akan mendapatkan pekerjaan. Soal ini cocok atau tidak menurut versi kita, soal itu kapan dan dimana, ini soal teknis orang hidup. Kita dituntut untuk psahabati-psahabati mempertimbangkannya.
- Kesiapan Intelektualitas: Dalam mendapatkan pekerjaan, maka kita dituntut untuk tidak hanya memiliki sikap mental positif dan selalu optimis dalam memdang proses pencarian kerja tersebut. Namun, sahabat sewajarnya juga harus memiliki tingat intelektualitas minimum, sesuai dengan kebutuhan bidang pekerjaannya. Kesiapan intelektualitas ini dapat berupa keahlian teknis pekerjaan, misalnya jika pekerjaan kita banyak dilakukan dengan mengunakan komputer, maka kita diwajibkan mampu mengoperasikan sistem komputer, jika pekerjaan menuntut berhubungan dengan sistem akuntansi, maka sahabat juga harus melengkapiu diri fengan keahlian di bidang akuntansi, dan sebagainya. Keahlian intelektualitas juga dapat berupa kemampuan dalam hal pengetahuan akademis yang baik, wawasan yang luas, sehingga mampu memberikan manfaat pada perusahaan untuk pengembangan strategi yang lebih baik. Dari berbagai kasus di lapangan menunjukkan bahwa rendahnya penguasaan teknis (keahlian kerja) yang dimiliki oleh angkatan kerja baru, ini tak hanya mempersulit calon pencari kerja saja, tetapi juga ikut mempersulit perusahaan pencari tenaga kerja (pemilik peluang). Sampai-sampai ada ungkapan: kalau sekedar ingin mencari orang yang mau kerja atau ingin kerja, ini jumlahnya berlebih. Tapi untuk mendapatkan orang yang mau dan mampu bekerja, ini jumlahnya selalu kurang. Karena itu, tak sedikit dari pemilik peluang yang berinisiatif untuk iklan meski harus bayar mahal
C. Kesiapan Administratif: selain kemampuan secara mental dan intelektual, pada saat kita ingin mencari kerja, maka butuh beberapa lembar dokumen sebagai alat untuk mendapatkan pekerjaan. Dokumen tersebut dapat berupa surat lamaran pekerjaan, Curiculum Vitae (CV), Ijazah terakhir, pengalam kerja (jika ada), surat keterangan lain dari instasi terkait (kepalisian, disnaker). Kesiapan Adsministratif sama pentingnya dengan, kesiapan mental ataupun intelektual. Karena, jika seseorang tidak lolos seleksi administratif, maka bisa dipastikan kesempatan untuk menunjukkan mentalitas dan intelektualitas akan tinggal impian. meski yang kita butuhkan adalah pekerjaan, tetapi hendaknya kita juga perlu memperbaiki perantara atau instrumen yang berlaku untuk mendapatkan pekerjaan itu. Perantara yang sangat penting di sini adalah seperangkat surat lamaran yang berisi antara lain: surat lamaran, CV atau resume, ijasah, sertifikat, dan lain-lain.
Kita perlu sadar bahwa meski semua orang bisa menulis surat lamaran, tetapi soal kualitas fisik dan isinya bermacam-macam. Ada yang baik, menarik, dan OK punya, tetapi ada yang terkesan asal-asalan. Tugas kita di sini adalah memperbaiki tampilan fisiknya dan isinya. Untuk ini, ada banyak cara dan petunjuk. Sahabat bisa membaca artikel tentang ini di website ini, bisa melihat di buku, bisa mencontoh dari orang-orang yang sahabat kenal. Intinya, jangan sampai menimbulkan kesan asal-asalan atau tidak lengkap.
2. Faktor Ekternal : Faktor lingkungan ekonomi dan bisnis juga turut berperan dalam suksesnya seorang job seeker dalam mendapatkan pekerjaan. Faktor ekternal itu antara lain.
a. Ketidakseimbangan pertumbuhan antara peluang kerja baru untuk lulusan baru dan jumlah lulusan baru (berlaku untuk daerah tertentu atau bidang tertentu). Hal ini tidaklah mengherankan, karena pertumbuhan tenaga kerja lebih cepat darui pertumbuhan ekonomi. Dampaknya adalah rendahnya pembentukkan sektor industri baru yang memiliki potensi untuk menyerap tenaga kerja.
b. Jauhnya link-match antara yang diberikan lembaga pendidikan (supplier) dan yang diminta industri (demander). Kesalahan dalam pemberian kurikulum yang tidak responsif terhadap kebutuhan industri adalah salah satu sebab, mengapa lulusan memiliki kualitas dan kompetensi yang tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Semakin menjamurnya tempat kursus, lembaga pendidikan, sekolah keahlian, ternyata belum bias memberikan nilai tambah yang positif bagi job seeker untuk mam[u memenuhi kualifikasi dari pekerjaan yang ditawarkan. Solusi yang paling relevan saat ini adalah kerja sama kemitraan dalam bentuk program magang profesi antara lembaga pendidikan dan industri, sehingga industri akan memperoleh kemudahan dalam mendapatkan tenaga kerja sesuai dengan yang diharapkan, dan lembaga pendidikan mampu memenuhi tanggungjawab moral dalam memunculkan lulusan yang siap kerja. Langkah ini memerlukan reorientasi terhadap kurikulum yang lebih berbasi keahlian dan kompetensi, tidak hanya sekedar teoritis.
c. Adanya KKN formal dan non-formal yang belum bisa dibersihkan secara tuntas dalam birokrasi swasta atau pemerintah untuk urusan penerimaan tenaga baru. Faktor persaingan tidak sehat masih saja mewarnai setiap proses seleksi penerimaan tenaga kerja baru. Kekhawatiran job seeker dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab untuk meraup keuntungan. Saya menganjurkan agar kita jangan samapai melakukan hal tersebut, karena apa ternyata dalam aktivitas bekerja, jika kita masuk pada jalur yang kurang pantas, maka penghargaan atas jati diri, dan nilai kerja kita akan kurang baik. Karena itu, karir kita akan terhambat, dan belum lagi tekanan mental atas interaksi dengan sesama karyawan lainnya. Sungguh situasi kerja yang tidak menyenangkan.
Setelah kita membahas faktor yang mempengaruhi job seeker dalam mengakses pekerjaan. Berikut ini ada beberapa tips untuk menembus dunia kerja dengan lebih cepat:
1. Specific: spesifik pertama adalah keahlian, mulai dari saat ini milikilah keahlian atau bidang khusus yang benar-benar sahabat kuasasi. Walaupun pendidikan mengajarkan kita banyak hal pilihlah yang kita sukai, dan mampu kita kerjakan sesuai dengan potensi yang kita miliki. Sehingga sahabat sangat menguasai bidang tersebut. Dengan cara ini, banyak sahabat kita yang telah berhasil menembus dunia kerja. Spesifik yang kedua adalah menentukan tujuan kita bekerja. Kita bekerja untuk senang-senang, untuk menambah wawasan, untuk cari pengalaman, mendapatkan penghasilan, atau mengisi waktu luang. Nah, kita haru memilih mengapa kita bekerja, sehingga sahabat mempunyai kemantapan dalam melangkah dan tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan.
2. Measurable: Terukur dan penuh perhitungan. Kenapa banyak pencari kerja telah puluhan kali membuat surat lamaran, namun tidak jua mendapatkan hasil yang memuaskan, alih-alih diterima bekerja, dipanggil untuk sekedar psikotest dan wawancara kerja saja tidak mendapatkan kesempatan. Dengan perhitungan yang matang, dengan potensi yang dimiliki dan diselaraskan dengan bidang pekerjaan yang akan diraih, maka paling tidak kita mampu untuk memperkecil prosentase kegagalan. Artinya apa, pihak perusahaan dalam hal ini juga tidak ingin dirugikan dalam pengelolaan SDM. Oleh sebab itu, perusahaan juga menginginkan kompetensi yang dimiliki oleh calon tenaga kerja, tidak jauh menyimpang dari kebutuhan pekerjaan.
3. Action-Oriented: Segala sesuatu jika hanya dipikirkan, diangankan, hanya akan menjadi keinginan dan tidak akan pernah menjadi kenyataan. Nah, sahabat jika kita ingin sukses menembuh dunia kerja , maka bergeraklah, lakukan apa yang sahabat inginkan. Jangan hanya disimpan dalam hati, dan menjadi wawasan. Dengan bertindak maka anda akan mengerti, bagaimana hasilnya, misalkan jika anda menemukan contoh surat lamaran yang menarik, langsung praktekkan. Bila sahabat mengetahui suatu perusahaan membutuhkan tenaga kerja, segera cari informasi, dari koran, majalah, teman, atau media online (internet). Dengan aksi maka, kita akan banyak belajar dari kesalahan, dan perbaikan atas kesalahan itu akan berdampak positif bagi sahabat.
4. Realitic: Dalam mencari pekerjaan dibutuhkan kejelian, terutama dalam mencermati faktor ekternal (lingkungan perusahaan, pengembangan karir, gaji, dll). Artinya apa, banyak sahabat kita, walaupun diterima bekerja, namun merasa kurang nyaman ditempat kerja, tidak menyenangi pekerjaannya, kurang bisa beradaptasi, dan akibatnya motivasi kerja menjadi turun, dan karir susah berkembang. Untuk mengatasinya,maka kita seharusnya bersikap realistik dalam melihat bidang pekerjaan yang akan kita raih. Sehingga, tidak muncul penyesalan dikemudian hari.
5. Time-bound : Aktivitas mencari kerja, bukan merupakan aktivitas yang tidak butuh perencanaan. Terutama masalah waktu penyampaian. Jika kita bicara waktu, maka waktu itu selalu terbatas. Dan sahabat harus mampu memanfaatkannya dengan baik. Jika kita jeli melihat, bahwa persyaratan pada permintaan tenaga kerja, penuh dengan persoalan waktu. Pengalaman kerja, umur, kontrak pekerjaan, ataupu waktu pengumpulan berkas lamaran, semuanya dibatasi waktu. Sahabat, seharusnya membuat perencanaan sederhana namun matang.
Baiklah sahabat, semoga apa yang kita telah bahas memberikan pencerahan pada sahabat, yang saat ini masih berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang mampu memberikan nilai positif dalam kehidupannya.
Comments