DEFINISI & DAMPAK KRISIS


Menurut Peter F. Drucker mengemukakan bahwa dalam kurun waktu yang penuh gejolak (turbulen) seperti halnya dewasa ini, hari esok bukanlah dengan sendirinya adalah kelanjutan hari ini. Terjadilah distrupsi terhadap suatu kontinuitas, terputushya suatu kesinambungan, yang melahirkan suatu diskontinuitas, terjadilah suatu perubahan. Perubahan dapat dipsisikan sebagai peluang, atau sebagai ancaman; persoalannya kemudian adalah bagaimana mengelola suatu perubahan agar selalu menjadi peluang. Suatu perubahan hanya dapat dimanfaatkan sebagai peluang, jika perubahan itu lebih dahulu diterima baik oleh lingkungannya, yang langkah awalnya adalah mengatasi perlawanan atau kemungkinan perlawanan terhadap perubahan.(sikapnya adalah Inactive, Reactive, Proactive, Inter-active).

Tiada seorangpun dapat mengelak dan melepaskan diri dari terjangan arus perubahan. Perubahan yang dibiarkan tidak dikelola, apabila yang dilawan, akan berkembang menjadi konflik. Penyelesaian konflik yang memuaskan akan membawa para pihak dalam kondisi cooperative aftermath (usai yang mengakibatkan hadirnya kerjasama), sedang penyelesaian yang tidak memuaskan, yang biasanya karena ingin cepat, pada akhirnya akan menimbulkan permusuhan (combative aftermath), penyelesaian combative ini akan menghadirkan konflik baru, yang tidak mustahil, akan berkembang menjadi Krisis.

Krisis adalah kondisi dimana terjadi inkonsistensi, sehingga membuat sebuah lingkungan berada dibawah kondisi standart. Dalam kondisi ini maka pola komunikasiantar komponen dala perusahaan akan mengalami degradasi dan biasanya bersifat emosional.

Krisis adalah Suatu ketidaknormalan dari konsekuensi negative yang mengganggu operasi sehari-hari sebuah organisasi. Dengan kondisi ini maka dimungkinkan adanya ancaman potensial bagi lingkungan, yang mengoyak kemapanan yang selama ini telah dicapai.

Krisis adalah situasi yang merupakan titik balik(turning point) yang dapat membuat sesuatu tambah baik atau tambah buruk. Dalam situasi krisis perusahaan sedang mengalami sorotan public yang luar baias besar, baik secara internal ataupun eksternal. Hal ini merupakan ancaman sekaligus peluang jika sebuah krisis menghasilkan solusi terbaik, dan memberikan keuntungan pada semua pihak. Maka dipastikan kredibilitas lembaga akan meningkat. Pus sebaliknya jika dibiarkan, tidak dikelola dengan baik, maka bias dipastikan krisis akan membesar dan menimbulkan ancaman yang serius terhadap eksistensi lembaga.

Setiap krisis adalah suatu emergency, namun tidak setiap emeergency adalah suatu krisis. Krisis dditangani oleh manajemen terhadap krisis. Krisis adalah kondisi tidak stabil, yang bergerak kearah suatu titik balik, dan menyandang potensi perubahan yang menentukan. Sedangkan keadaan darurat (emergency) adalah kejadian tiba-tiba, yang tidak diharapkan terjadinya dan menuntut penanganan segera.

Steven Fink dalam karyanya yang berjudul Crisis Management - Planning for the inevitable, mengumukakan : "A crisis is an unstable time or state of affairs in which a decisive change is impending-either one with the distinct possibility of a highly desirable and extremely positibe outcome, or one with the distinct possibility of a highly undesirable outcome. It is usually a 50-50 proposition, but yoy can improve the odds".

Jadi esensi manajemen krisis adalah upaya untuk menekan faktor ketidakpastian dan faktor resiko hingga tingkat serendah mungkin, dengan demikian akan lebih mampu menampilkan sebanyak mungkin faktor kepastiannya. Sebenarnya yang disebut manajemen krisis itu diawali dengan langkah mengupayakan sebanyak mungkin informasi mengenai alternatif-alternatif, mapun mengenai probabilitas, bahkan jika mungkin mengenai kepastian tentang terjadinya, sehingga pengambilan keputusanan mengenai langkah-langkah yang direncanakan untuk ditempuh, dapat lebih didasarkan pada sebanyak mungkin dan selengkap mungkin serta setajam (setepat) mungkin informasinya. Tentu saja diupayakan dari sumber yang dapat diandalkan (reliable), sedangkan materinya juga menyandang bobot nalar yang cukup.

Beberapa contoh kasus yang dapat menimbulkan krisi:

  1. Masalah pencemaran lingkungan oleh pabrik.
  2. Masalah unjuk rasa oleh pekerja.
  3. Masalah produk yang tidak bisa dipasarkan.
  4. Masalah kericuhan dengan pemerintah dalam hal peraturan yang berkaitan dengan izin usaha.

Dampak Krisis terhadap perusahaan

  1. Intensitas permasalahan akan bertambah.
  2. Masalah akan dibawah sorotan publik baik melalui media masa, atau informasi dari mulut-kemulut.
  3. Masalah akan menganggu kelancaran bisnis sehari-hari.
  4. Masalah menganggu nama baik perusahaan.
  5. Masalah dapat merusak sistim kerja dan menggoncangkan perusahaan secara keseluruhan.
  6. Masalah yang dihadapi disamping membuat perusahaan menjadi panik, juga tidak jarang membuat masyarakat menjadi panik.
  7. Masalah akan membuat pemerintah ikut melakukan intervensi.

Comments

Popular posts from this blog

IDENTIFIKASI & RESOLUSI KRISIS

MANAJEMEN ISSUE & PUBLIC RELATION

Belajar Bisnis Online Lewat Ebook Gratis